Maafkan Aku Yaa Allah, Aku Tunanetra (Bag.1): Pulangnya Hati

Ini adalah puing-puing keresahan yang ingin kususun kembali menjadi sebuah risalah kecil penyejuk bagi hati yang telah lama kering oleh gersangnya ambisi dunia.

Hari ini dan hari-hari sebelumnya berjalan seperti biasanya. Seorang remaja yang beranjak dewasa sudah bergegas mencari penghidupan sejak pagi buta mencoba mengais peruntungan di tengah kota. Bergelut dan berjibaku dengan kerasnya era milenial. Berjuang di antara jerat-jerat fitnah syahwat dan syubhat.

Semua orang seperti berpacu dengan waktu. Seakan tidak ada ujung hari tempat ia bersimpuh. Sampai-sampai seorang anak harus berpikir keras mencari waktu luang untuk sekedar menyambangi ibunya.

Ini bukan masalah jarak yang membentang antara sang anak dengan ibunya. Namun masalah jarak yang membentang antara hatinya dengan sang ibu.

Orang tua bisa menempuh jarak ratusan kilo untuk sekedar menuntaskan rasa rindu pada buah hatinya. Namun, belum tentu seorang anak ringan langkahnya menuju peraduan sang ibu yang telah lama menggerus rindu ingin bertemu.

Kalaupun raganya telah pulang, belum tentu hatinya ia bawa pulang juga, untuk merasakan kepingan-kepingan perasaan yang selama ini dipendam oleh orang tuanya. Raga memang sudah di rumah. Namun hati masih di perantauan. Pikiran masih sibuk dengan pekerjaan. Maka, apa arti hadirmu di sini?

Penghidupan seperti apa yang sedang kamu kejar selama ini? Kebahagiaan seperti apa yang selama ini menjadi ambisimu? Padahal dengan berbakti pada orang tua adalah jalan meraih penghidupan yang sesungguhnya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97).

Maafkan aku, Yaa Allah Yaa Rahman, kini aku tak punya kemampuan menatap dengan jelas wajah orang tuaku. Aku pun tak bisa melihat derai air mata yang basah kuyub membasahi pipi mereka. Kerut keriput kulit tanda usianya yang telah senja pun tak mampu kupandang.

Maafkan aku yaa Allah yaa Rahiim, langkah kakiku tidak sigap dalam menjejak langkah sehingga aku selalu lambat dalam memenuhi panggilan orang tuaku.

Maafkan aku yaa Allah yaa Ghafar, lemahnya fisikku dan terbatasnya penglihatanku membuatku seakan tidak bisa memberikan bakti yang terbaik pada ayah dan ibuku. Sungguh aku tidak ingin menjadi anak yang celaka. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” (HR. Muslim no. 2551).

Kamu yang mebaca risalah ini, dengarkan aku. Jika Allah masih memberikanmu nikmat berupa mata yang awas dan memiliki lapang pandang yang luas tanpa hambatan, dan jika aku punya kesempaatan sesaat untuk meminjam matamu, aku ingin meminjam untuk segera pulang untuk melihat wajah orang tuaku. Menggenggam tangannya dan memeluknya selama mungkin sebelum kamu memintaku mengembalikan nikmat mata ini.

Jangan sampai kamu terlambat menyadari ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪُ ﺃَﻭْﺳَﻂُ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺈِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﺿِﻊْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺒَﺎﺏَ ﺃَﻭِ ﺍﺣْﻔَﻈْﻪُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya” (HR. Ahmad, hasan).

(Bersambung)

Baca Juga:

***

Penulis: Fauzan Harry Saktyawan

Artikel: Muslim.or.id

Related posts

Leave a Comment